About Blog

Ada saat kita menjadi seseorang yang tidak pernah tahu hal apapun, tapi itu bukan berarti kita tidak mampu untuk belajar mengetahui apa yang tidak pernah kita tahu

Jumat, 12 November 2010

TOR - Workshop Pola Penanganan Wanita Tuna Susila (WTS)

| Jumat, 12 November 2010 | 0 komentar

LATAR BELAKANG

WTS sampai sekarang masih menjadi polemik. Materi perdebatan mengenai masalah ini cukup beragam mulai dari keabsahan profesi WTS, penyebutan istilah WTS, sampai pada pola penanganan WTS. Sebagai instansi pemerintah,  Dinas Sosial Propinsi DIY telah memilih sikap berada pada posisi sebagai pelaksana rehabilitasi dimana WTS diposisikan sebagai klien ( orang yang memiliki masalah ).
Tetapi di luar institusi social telah terdapat bentuk – bentuk pelayanan atau pendampingan yang dalam pelaksanaannya  sama sekali berbeda dengan pola penanganan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial.


Pemerintah melalui Dinas Sosial Propinsi DIY telah berusaha untuk menyempurnakan pola penanganan WTS baik melalui system panti maupun luar panti. Namun demikian masih saja banyak kritikan yang ditujukan kepada Dinas Sosial sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat, LSM dan instansi lain terhadap kinerja Dinas Sosial  terutama dalam penanganan masalah tuna susila.

Sebagai respons atas desakan berbagai pihak tersebut, Dinas Sosial ingin duduk satu meja untuk membicarakan hal – hal yang berkaitan dengan tuna susila dengan mengundang pihak – pihak yang berhubungan secara langsung dengan penanganan tuna susila dengan menyelenggarakan workshop. Dalam kegiatan ini Dinas Sosial membuka diri untuk mendapatkan masukan baik dari akademisi, praktisi, legislative, aparat hukum dan kepolisian tetapi juga sekaligus sebagai sarana social market bagi program – program Dinas Sosial. Masyarakat juga harus mengetahui bahwa Dinas Sosial telah melakukan banyak hal untuk menangani masalah tuna susila.

I. OUTPUT
Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah dipahaminya pola penanganan tuna susila yang dilaksanakan oleh pemerintah, dan pemerintah mendapatkan banyak masukan dari institusi lain yang menyelenggarakan penanganan tuna susila sehingga penangaan tuna susila dapat lebih optimal.

II.PELAKSANAAN

A.     WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

WORKSHOP direncanakan selama 2 hari dari tanggal  3 dan 4 Desember 2004 di Wisma Sargede Yogyakarta

B.     METODE
  1. Ceramah
  2. Tanya Jawab
  3. Diskusi
C.     BIAYA
Biaya berasal dari APBN sebesar Rp. 11.970.000,-

III.PESERTA
Peserta sejumlah 40 orang, terdiri dari unsur


IV.              PENCERAMAH

Penceramah terdiri dari :

1.      Dinas Sosial Prop. DIY

2.      Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

3.      PSKW Sidoarum

4.      PKBI Yoagyakarta

5.      DR. Kontjoro, PHD


V.                 PENUTUP

Demikian TOR ini, semoga menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan, sehingga diharapkan hasilnya  dapat membantu sebagian penanganan permasalahan social yang ada  di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota,    Nopember 2004
KEPALA




RUANG LINGKUP PENANGANAN MASALAH TUNA SOSIAL SEKSI      R.T.S

1.      Penanganan Tuna Susila.

Kegiatan :

·        Bimbingan Rehabilitasi Sosial dan Ketrampilan Tuna Susila sistim Luar panti.

Tujuan :  agar wts memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan lingkungan dan

               dapat menguasai ketrampilan.

Peserta : 20 orang.

Lokasi  : Sosrowijayan Wetan, Gedongtengen.

Waktu  : Juni s/d Oktober 2004

·        Work Shop penanganan WTS.

Tujuan :  untuk mencari rumusan program dalam penyusunan kebijakan penanganan tuna susila di DIY.

Target       : 40 orang.

Peserta     : Instansi yang menangani masalah tuna susila kabupaten / kota, LSM dan   

                   orsos.

Penceramah dari Fakultas Psikologi UGM.

·        Penyuluhan bagi masyarakat dalam penanganan WTS.

Tujuan      :  Masyarakat memahami program penanganan WTS yang dilaksanakan oleh pemerintah dan turut serta secara aktif di dalamnya.

Target       :   100  orang (untuk 2 lokasi) di Kota Yogyakarta dan Kab. Bantul.

2.  Penanganan HIV / AIDS.

Kegiatan :

·        Bimbingan ketrampilan bagi ODHA.

Tujuan     :  Agar  ODHA memiliki ketrampilan yang dapat menghidupi diri.

Peserta    : 5 orang (dibawah pembinaan JOY)

Ketrampilan    : sesuai dengan minat peserta.

Tempat kegiatan : Kota Yogyakarta.

·    Pelatihan bagi kader RBM dan Tokoh Masyarakat.

Tujuan : Agar kader memiliki pengetahuan tentang cara-cara penanggulangan HIV/AIDS di lingkungannnya dan terjalin jejaring kerja yang sinergis.

Peserta  : 30 Orang berasal dari masyarakat ang bergerak dalam bidang atau yang peduli terhadap penanganan masalah HIV/AIDS

·  TOT bagi petugas sosial di dalam penjara.

Tujuan : Pencegahan secara dini penyebaran HIV/AIDS dalam penjara sehingga dapat mengupayakan pencegahan bagi penghuni lain.

Peserta      : 20 orang terdiri dari Petugas Sosial  LP Wirogunan 5 Orang, Rutan Bantul,Rutan   Kulon Progo, Rutan Gunung Kidul

3.     Penanganan eks narapidana.

Kegiatannya :
·        Bimbingan Rehabilitasi Sosial dan Ketrampilan Luar panti
Tujuan : Agar napi memiliki kemampuan berinteraksi sosial secara baik dan menguasai ketrampilan secara memadai agar dapat diterima di masyarakat.
Peserta : 30 orang bersal dari Kota, Bantul dan Sleman.
Waktu  : Juni s/d Oktober 2004.
Tempat di : PPW Sewon, Bantul.

PBK bagi eks klien napi.
Tujuan :  Menambah pengalaman bekerja bagi warga binaan eks napi.
Peserta            : 30 orang dari Kota Yogyakarta, Bantul dan Sleman, Kulon Progo.
Waktu             : Mei s/d September 2004.

4. Penanganan waria tuna susila.
Kegiatannya :
·             Bimbingan Rehabilitasi Sosial dan Ketrampilan Luar panti.
Tujuan : Agar waria tuna susila memiliki kepercayaan diri setelah memiliki ketrampilan kerja sehingga dapat bekerja atau berusaha pada sektor-sektor yang dapat diterima oleh masyarakat.
Peserta            : 15 orang dari Komunitas waria Yogyakarta.
Waktu             : 40 hari dengan ketrampilan Salon.

5.      Penanganan Gepeng.

Kegiatan :
   1. Work shop pola penanganan gepeng.
Tujuan : Mencari rumusan program dan penyusunan kebijakan penanganan gepeng di Propinsi DIY.
Peserta berasal dari Instansi di Wilayah Kota Yogyakarta, Kabupaten se DIY, LSM dan Orsos sebanyak 40 orang.
Penceramah dari: Direktur PRRTS Departemen Sosial RI.
Pembicara Daerah : Sosiolog dari UGM.
   2. Penyuluhan penanganan gepeng.
Tujuan : Agar masyarakat memahami program penanganan gepeng yang dilaksanakan oleh pemerintah  serta aktif didalamnya.
   3. Identifikasi Gepeng.
Tujuan : untuk merumuskan pola penanganan gepeng dengan tepat.

Petugas dari BBPPKS, LSM,  dsb.

5.      Penanganan Eks sakit jiwa.
Kegiatan :
1.      Pelayanan sosial eks sakit jiwa.
Target : 20 orang perempuan dari RS Gracia, bertempat 1 bulan di PPW Sewon dengan ketrampilan home industri.
2.      Penyuluhan bagi keluarga eks sakit  jiwa.
Tujuan  : Masyarakat memahami program penanganan sakit jiwa yang dilaksanakan oleh pemerintah dan turut serta di dalamnya.
Lokasi kegiatan di masing-masing kabupaten / kota, sebanyak 10 kali untuk 700 orang peserta.

Kota, 28 April 2004
Mengetahui
Kepala Seksi RTS

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com